PENJELASAN PALING LENGKAP ZAKAT INFAK SEDEKAH FIDYAH

PENJELASAN PALING LENGKAP MENGENAI ZAKAT FITRAH BULAN RAMADHAN, INFAK SEDEKAH DAN MEMBAYAR FIDYAH BULAN RAMADHAN Para pengunjung sering menanyakan berbagai hal seputar Zakat Fitrah,Infak dan Fidyah Puasa Bulan Ramadhan , yang semua pertanyaan dapat di rangkum dibawah ini :

bacaan niat zakat fitrah arab

bacaan niat zakat fitrah untuk suami

bacaan niat zakat fitrah untuk anak perempuan

bacaan niat zakat fitrah bahasa arab

bacaan niat zakat fitrah untuk orang lain

bacaan niat zakat fitrah untuk istri

bacaan niat zakat fitrah dan zakat mal

niat membayar zakat fitrah untuk diri sendiri

perhitungan zakat fitrah

ketentuan zakat fitrah

zakat mal

pengertian zakat fitrah

pengertian zakat fitrah dan zakat mal

zakat fitrah dan zakat mal

makalah zakat fitrah

zakat profesi

hukum infaq

manfaat infaq

pengertian infaq

perbedaan infaq dan shodaqoh

infaq dan shodaqoh

makalah infaq

dalil infaq

manfaat infaq dan sedekah

mukjizat sedekah

keajaiban sedekah

sedekah yang benar

sedekah yusuf mansur

pengertian sedekah

manfaat sedekah

pengalaman sedekah

hikmah sedekah

fidyah puasa ramadhan

fidyah puasa ibu hamil

ukuran besaran bayar fidyah puasa ramadhan

hukum fidyah puasa

fidyah puasa hari

fidyah puasa orang mati

fidyah puasa menurut imam syafi’i

fidyah puasa bagi wanita haid

seputar besaran perhitungan zakat fitrah dan fidyah puasa ramadhan
Dari beberapa rangkuman yang sering ditanyakan diatas, Jawabannya dapat dirangkum juga dibawah ini :
1. Berapa besaran zakat fitrah Bulan Ramadhan dan bagaimana cara membayarnya?

Pada zaman Rasululullah Saw besaran zakat fitrah ditentukan dengan satu sha’, satu sha’ sama dengan empat mud. Ketika dikonversi ke ukuran berat sekarang, terjadi perbedaan pendapat dalam mengkonversi mud menjadi ons. Ada yang menyatakan 1 mud sama dengan 6 ons, sehingga 1 sha’ (ukuran 4 mud) adalah 2,4 kg.

Ada yang mengatakan 1 mud adalah 6,5 ons, sehingga 1 sha’ sama dengan 2,6 kg, dan ada juga yang mengatakan 1 mud adalah 7 ons, sehingga 1 sha’ sama dengan 2,8 kg. Dari situ banyak yang menyarankan zakat fitrah sebesar 3 kg (pembulatan dari 2,8 kg), demi kehati-hatian. Kalaupun terdapat kelebihan, itu dinilai sedekah untuk fakir miskin.

Zakat fitrah diwajibkan bagi yang mengalami hidup akhir sesaat di bulan Ramadan dan sesaat bulan Syawwal, dan waktunya berakhir sebelum khatib menyelesaikan khutbah Idul Fitri. Kendati demikian, boleh mengeluarkannya sebelum hari raya, bukan sebelum Ramadan, kecuali jika zakat itu Anda sisihkan atau amanatkan kepada orang lain untuk ditunaikan atas nama Anda pada waktunya. Demikian, wallahu a’lam.

Berikut dibawah ini beberapa hal Mengenai Bacaan Doa Niat Membayar Zakat Fitrah Bulan Ramadhan

Bacaan Niat Zakat Fitrah untuk diri Sendiri :

“NAWAITU AN-UKHRIJA ZAKAATAL FITHRI ‘ANNAFSII FARDHAN LILLAHI TA’AALAA”

Artinya : “Saya berniat mengeluarkan zakat fitrah atas diri saya Fardhu karena Allah Ta’ala”

– Bacaan Niat Zakat Fitrah Untuk Istri :

Artinya : “Saya berniat mengeluarkan zakat fitrah atas Istri saya Fardhu karena Allah Ta’ala”

Bacaan Niat Zakat Fitrah Untuk anak laki atau Perempuan :

“NAWAITU AN-UKHRIJA ZAKAATAL FITHRI ‘AN WALADII… / BINTII… FARDHAN LILLAHI TA’AALAA”

Artinya : “Saya berniat mengeluarkan zakat fitrah atas anak laki-laki saya (sebut namanya) / anak perempuan saya (sebut namanya), Fardhu karena Allah Ta’ala”

– Bacaan Niat Zakat Fitrah Untuk Orang yang kita wakili :

“NAWAITU AN-UKHRIJA ZAKAATAL FITHRI ‘AN (……) FARDHAN LILLAHI TA’AALAA”

Apabila kita tidak bisa membaca seperti niat di atas maka kita cukup dengan lafal :

“Saya berniat mengeluarkan Zakat Fitrah Saya / Anak Saya / Istri Saya / atau siapapun Fardhu karena Allah”

Alangkah Baiknya kalo baca Doa Niat di Bawah Ini

– Do’a mengeluarkan zakat fitrah :

Artinya : “Ya Allah Jadikanlah ia sebagai simpanan yang menguntungkan dan jangan jadikan pemberian yang merugikan”

(M Quraish Shihab dan Muhammad Arifin Dewan Pakar Pusat Studi Alquran)

2. Berapakah nisab emas yang harus dikeluarkan zakat nya? Dan berapa persen untuk zakat maal?

Nishab emas adalah 85 gram, dan zakatnya 2,5%. Nishab zakat maal/ harta (uang) adalah senilai harga 85 gram emas, dan zakatnya juga 2,5%. Demikian, wallahu a’lam.

(M Quraish Shihab, Dewan Pakar Pusat Studi Alquran)

3. Apa perbedaan zakat, infak dan sedekah

ZIS adalah akronim dari zakat, infak, dan sedekah. Ketiga kata ini dikenal oleh bahasa Arab sebelum turunnya Alquran dengan makna-makna tertentu. Tetapi, perlu digarisbawahi hakikat yang menyatakan bahwa ‘bahasa’ adalah sesuatu ‘yang hidup.’

Karena itu, selain bisa muncul atau lahir yang baru, kata-kata yang lama pun dapat mati atau tidak digunakan lagi. Kata-kata bisa juga berkembang. Karena itu, maknanya dapat berubah, meluas, atau menyempit.

Alquran dan hadis Nabi tidak jarang menggunakan satu kata dengan makna ‘baru’ yang kurang dikenal sebelumnya oleh pemakai bahasa itu. Di sisi lain, pemakaian sehari-hari dan penggunaan istilah dalam berbagai bidang ilmu melahirkan pula makna-makna baru yang agak berbeda dari makna yang digunakan Alquran dan hadis Nabi.

Kata-kata itu, misalnya, adalah ‘ibadah’, ‘ulama’, ‘kafir’, dan sebagainya. Sementara itu, di kalangan para pakar, dikenal —paling tidak— tiga istilah: apa yang disebut pengertian kebahasaan, pengertian agama, dan pengertian sehari-hari (‘urf).

Kata ‘infak’ terambil dari kata berbahasa Arab infak, yang —menurut penggunaan bahasa— berarti “berlalu, hilang, tidak ada lagi” dengan berbagai sebab: kematian, kepunahan, penjualan, dan sebagainya. Atas dasar ini, Alquran menggunakan kata infak, dalam berbagai bentuknya —bukan hanya dalam harta benda, tetapi juga selainnya.

Dari sini dapat dipahami mengapa ada ayat-ayat Alquran yang secara tegas menyebut kata ‘harta’ setelah kata infak. Misalnya, surah al-Baqarah ayat 262. Selain itu, ada juga ayat yang tidak menggandengkan kata infak dengan kata ‘harta’, sehingga ia mencakup segala macam rezeki Allah yang diperoleh manusia dan yang dapat digunakan. Misalnya, antara lain, surah al-Ra’d ayat 22 dan surah al-Furqan ayat 67.

Kata infak digunakan bukan hanya menyangkut sesuatu yang wajib, tetapi mencakup segala macam pengeluaran atau nafkah. Bahkan, kata itu digunakan untuk pengeluaran yang tidak ikhlas sekalipun. Firman Allah dalam surah al-Baqarah ayat 262 dan 265, surah al-Anfal ayat 36, dan surah at-Taubah ayat 54 merupakan sebagian ayat yang dapat menjadi contoh keterangan di atas.

Dari sini dapat dikatakan bahwa kata infak mencakup segala macam pengeluaran (nafkah) yang dikeluarkan seseorang, baik wajib maupun sunnah, untuk dirinya, keluarga, ataupun orang lain, secara ikhlas atau tidak. Dan dengan demikian, zakat dan sedekah termasuk dalam kategori infak.

Dari segi bahasa, ‘zakat’ berarti ‘penyucian’ atau ‘pengembangan’. Pengeluaran harta, bila dilakukan dengan ikhlas dan sesuai dengan tuntunan agama, dapat menyucikan harta dan jiwa yang mengeluarkannya serta mengembangkannya. Alquran dan hadis sering menggunakan kata ini dalam arti ‘pengeluaran kadar tertentu dari harta benda yang sifatnya wajib dan setelah memenuhi syarat-syarat tertentu.’

Karenanya, pengeluaran itu harus disertai dengan kesungguhan dan keikhlasan. ‘Sedekah’ terambil dari akar kata yang berarti ‘kesungguhan dan kebenaran.’ Alquran menggunakan kata ini sebanyak lima kali dalam bentuk tunggal dan tujuh kali dalam bentuk jamak—kesemuanya dalam konteks pengeluaran harta benda secara ikhlas (bandingkan dengan infak).

Tetapi, kata ‘sedekah’ tidak hanya digunakan untuk pengeluaran harta yang bersifat sunnah atau anjuran, tetapi juga untuk yang wajib. Surah at-Taubah ayat 103 memerintahkan Nabi Saw mengambil zakat harta dari mereka yang memenuhi syarat-syarat, demikian juga surah at-Taubah ayat 60 yang berbicara tentang mereka yang berhak menerima zakat dengan menggunakan kata ‘sedekah’ dalam arti zakat wajib.

Dalam pemakaian sehari-hari, kata ‘zakat’ digunakan khusus untuk pengeluaran harta yang sifatnya wajib (fitrah, mal, pertanian, perdagangan, dan sebagainya). ‘Sedekah’ digunakan untuk pengeluaran harta yang sifatnya sunnah. Sementara itu, infak mencakup segala macam pengeluaran: harta atau bukan, yang wajib atau yang bukan, secara ikhlas atau dengan pamrih.

(M Quraish Shihab,Dewan Pakar Pusat Studi Alquran)

4. Jika bekerja di kota A, menunaikan salat Ied di kota B. Dimanakah harus membayar zakat Fitrah? Di A atau B?

Zakat fithrah tidak boleh digunakan kecuali buat fakir miskin, utamanya fakir miskin yang ada di tempat pembayar zakat itu bemukim. Ini karena tujuannya adalah membebaskan fakir miskin dari mengemis pada hari lebaran. Utamakan membayar zakat di daerah tempat Anda bermukim/tinggal.

(M Quraish Shihab, Dewan Pakar Pusat Studi Alquran)

5. Wajibkah zakat bagi orang yang punya utang banyak?

Dalam keadaan seperti itu, Anda tidak dikenakan kewajiban zakat harta (atau zakat mal), karena zakat harta diwajibkan kepada orang yang memiliki harta sekurang-kurangnya senilai 85 gram emas dan harta itu telah dimiliki penuh selama satu tahun. Zakatnya sebesar 2,5%. Tetapi Anda tetap berkewajiban untuk mengeluarkan zakat fitrah.

Zakat fitrah wajib atas setiap Muslim yang mengalami hidup sesaat pada bulan Ramadan dan sesaat pada bulan Syawal dan memiliki kecukupan makan pada hari Idul Fitri, tidak terkecuali apakah itu orang tua atau muda, laki-laki atau perempuan, orang merdeka atau hamba sahaya, bahkan bayi sekalipun. Demikian, wallahu a’lam.

(M Quraish Shihab, Dewan Pakar Pusat Studi Alquran)

6. Bagaimana hukumnya dengan kewajiban membayar zakat maal tetapi masih berutang kepada bank untuk membeli rumah dengan masa 10 tahun?

Hitunglah jumlah uang Anda yang telah Anda miliki selama satu tahun, lalu kurangi dengan utang yang menjadi tanggungan Anda pada tahun itu (bukan utang kredit rumah dua, tiga, atau 10 tahun ke depan!). Jika jumlahnya mencapai nishab (senilai 85 gram emas), maka Anda wajib mengeluarkan zakatnya sebesar 2,5%. Demikian, wallahu a’lam.

(Huzaemah Tahido, Dewan Pakar Pusat Studi Alquran)

7. Bagaimana zakat fitrah bagi bayi yang lahir pada malam takbiran?

Zakat fitrah diwajibkan bagi yang mengalami hidup akhir sesaat di bulan Ramadan dan sesaat bulan Syawwal. Dengan demikian, kalau bayi baru dilahirkan pada malam takbiran dan tidak mengalami bulan Ramadan, tidak wajib baginya zakat fitrah. Demikian, wallahu a’lam.

(M Quraish Shihab, Dewan Pakar Pusat Studi Alquran)

8. Bagaimana perhitungan zakat fitrah untuk ibu hamil? Apakah janin yang ada dalam kandungan ikut dizakat fitrah?

Zakat fitrah diwajibkan bagi yang mengalami hidup akhir sesaat di bulan Ramadan dan sesaat di bulan Syawal. Melihat umur kehamilan yang baru lima bulan, hampir bisa dipastikan bayi Anda belum akan lahir (mengalami hidup) sesaat di akhir bulan Ramadan dan sesaat di awal bulan Syawal, yang berarti belum terkena zakat fitrah. Demikian, wallahu a’lam.

(M Quraish Shihab, Dewan Pakar Pusat Studi Alquran)

9. Apakah boleh atau sah hukumnya jika memberikan zakat baik zakat fitrah maupun maal kepada orangtua sendiri jika orangtua tergolong wajib zakat?

Memberikan zakat kepada keluarga yang wajib ditanggung belanja hidupnya seperti ayah, ibu, dan anak, maka apa yang diserahkannya itu tidak dinilai sebagai zakat, tetapi sedekah. Dalam kasus Anda, tidak sah memberi zakat kepada orangtua Anda, apalagi dia tergolong wajib zakat. Sebab, sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi yang diriwayatakan oleh Imam Ahmad, “Engkau dan hartamu milik ayahmu.” Apa pun yang secara ikhlas diberikan kepada mereka dinilai sebagai sedekah.

Memang, ada ulama seperti Ibnu Taymiyyah yang berpendapat bahwa boleh menyerahkan zakat kepada kedua orangtua ke atas (nenek dan kakek), atau anak  ke bawah (cucu) selama mereka miskin, sementara yang berzakat berpenghasilan pas-pasan dan keadaan dan tanggungannya yang lain (seperti anak dan istri) akan terganggu bila membelanjai lagi orangtuanya. Demikian, wallahu a’lam.

(M Quraish Shihab, Dewan Pakar Pusat Studi Alquran)

10. Pembayaran zakat profesi, zakat maal Bagus dan baiknya harus diserahkan ke mana?

Menyerahkan zakat oleh wajib zakat lembaga BAZIS (baca: lembaga resmi) lebih baik, karena lebih terjamin pemerataan pembagian zakat itu. Ini karena boleh jadi mustahaq (yang berhak menerima) memeroleh dari berbagai sumber sedang ada selainnya yang tidak memeroleh sama sekali. Di sisi lain, memberi kepada amil yang tidak resmi berarti menunjuk wakil anda untuk memberinya sedang amil zakat yang resmi/ semi resmi berkedudukan mewakili kelompok-kelompok yang berhak menerima.

Konsekuensi perbedaan ini menjadikan anda masih berkewajiban mengeluarkan zakat, jika zakat yang anda amanatkan ke amil yang mewakili anda itu menghilangkannya, karena zakat belum sampai kepada yang berhak menerima. Tetapi bila Anda menyerahkan kepada amil resmi/ BAZIS, maka karena dia mewalili yang berhak, anda tidak perlu mengeluarkan zakat lagi seandainya zakat yang anda serahkan itu hilang ditangan amil tersebut.

11. Apa boleh membayar zakat hanya dengan menyumbangkan ke kotak amal di masjid walaupun niat saya adalah membayar zakat profesi dan zakat maal?

Hemat kami, kurang tepat jika Anda memasukkan zakat mal Anda ke dalam kotak amal yang tersedia di masjid, meskipun Anda berniat untuk membayar zakat. Kecuali jika kotak itu dikhususnya untuk zakat mal.

(M Quraish Shihab, Dewan Pakar Pusat Studi Alquran)

12. Berapakah kententuan usia baru mulai membayar zakat Fitrah? Dan adakah batasan usia dalam membayar zakat?

Tidak ada batasan umur dalam membayar zakat. Zakat fitrah diwajibkan bagi yang mengalami hidup akhir sesaat di bulan Ramadan dan sesaat bulan Syawwal, dan waktunya berakhir sebelum khatib menyelesaikan khutbah Idul Fitri. Sedangkan zakat mal wajib bagi setiap Muslim yang mempunyai harta mencapai nishab dan haul, meskipun dia anak-anak -misalnya mendapat warisan- atau orang gila. Demikian, wallahu a’lam.

(Huzaemah Tahido, Dewan Pakar Pusat Studi Alquran)

13. Bagaimana Cara menghitung zakat profesi Yang Benar ?

Kalau zakat profesi dianalogikan dengan zakat pertanian, apa yang Anda keluarkan itu telah memenuhi ketentuan. Berikut keterangannya.

Penghasilan yang diperoleh seorang Mukmin dan yang sebagian darinya diperintahkan untuk dikeluarkan nafkahnya dibagi oleh Alquran (QS al-Baqarah (2): 267) ke dalam dua bagian pokok: “hasil usaha yang baik-baik” dan “apa yang dikeluarkan Allah dari bumi,” yakni hasil pertanian dan pertambangan.

Adapun yang dimaksud dengan ‘hasil usaha yang baik-baik’, para ulama dahulu membatasinya pada hal-hal tertentu yang pernah ada di masa Rasulullah Saw dan yang ditetapkan oleh beliau sebagai yang harus dizakati. Inilah dahulu yang dimaksudkan dengan zakat penghasilan. Selebihnya, usaha manusia yang belum dikenal di masa Nabi dan sahabat beliau tidak termasuk yang harus dizakati. Jadi, yang demikian itu tidak dimaksudkan oleh sementara ulama dalam pengertian ayat di atas sebagai “hasil usaha yang baik.”

Akan tetapi, kini telah muncul berbagai jenis usaha manusia yang menghasilkan pendapatan, baik secara langsung tanpa keterikatan dengan orang atau pihak lain seperti para dokter, konsultan, seniman, dan lain-lain, maupun yang disertai keterikatan dengan pemerintah atau swasta seperti gaji, upah, dan honorarium. Rasa keadilan dan hikmah adanya kewajiban zakat mengantar banyak ulama memasukkan profesi-profesi itu ke dalam pengertian “hasil usaha yang baik-baik.”

Dengan demikian, mereka menyamakannya dengan zakat penghasilan atau perdagangan dan menetapkan persentase zakatnya sama dengan zakat perdagangan, yakni dua setengah persen dari hasil yang diterima setelah dikeluarkan segala biaya kebutuhan hidup yang wajar, dan sisa itu telah mencapai batas minimal dalam masa setahun, yakni senilai 85 gram emas murni.

Ada berbagai pendapat lain yang menganalogikan penghasilan dari profesi itu dengan zakat pertanian. Dalam hal ini, jika dia beroleh penghasilan senilai 653 kilogram hasil pertanian yang harganya paling murah, maka ketika itu juga dia harus menyisihkan lima atau sepuluh persen (tergantung pada kadar keletihan yang bersangkutan) dan tidak perlu menunggu batas waktu setahun.

Menurut hemat saya, pendapat pertama yang menyamakan zakat profesi dengan zakat perdagangan lebih bijaksana, karena hasil yang diterima biasanya berupa uang sehingga lebih mirip dengan perdagangan dan atau nilai emas dan perak. Demikian, wallahu a’lam.

(M Quraish Shihab, Dewan Pakar Pusat Studi Alquran)

14. Bagaimanakah cara yang tepat membagikan zakat fitrah kepada yang mustahaq?

Menyerahkannya kepada lembaga BAZIS lebih baik, karena lebih terjamin pemerataan pembagian zakat itu. Ini karena boleh jadi mustahaq (yang berhak menerima) memeroleh dari berbagai sumber sedang ada selainnya yang tidak memeroleh sama sekali. Di sisi lain, memberi kepada amil yang tidak resmi berarti menunjuk wakil anda untuk memberinya sedang amil zakat yang resmi/semi resmi berkedudukan mewakili kelompok-kelompok yang berhak menerima.

Konsekuensi perbedaan ini menjadikan anda masih berkewajiban mengeluarkan zakat, jika zakat  yang anda amanatkan ke amil yang mewakili anda itu menghilangkannya, karena zakat belum sampai kepada yang berhak menerima. Tetapi bila Anda menyerahkan kepada amil resmi/BAZIZ, maka karena dia mewakili yang berhak, anda tidak perlu mengeluarkan zakat lagi seandainya zakat yang anda serahkan itu hilang ditangan amil tersebut. Demikian, wallahu a’lam.

(M Quraish Shihab, Dewan Pakar Pusat Studi Alquran)

15. Apakah zakat fitrah itu yang berhak fakir,miskin dan amil saja? Apakah bagian yang tidak ada mustahaqnya bisa dibagikan kepada yang sudah ada?

Syaikh Wahbah az-Zuhaili dalam bukunya al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh menyebutkan bahwa memang zakat fitrah diutamakan untuk dibagikan kepada fakir dan miskin, meskipun boleh-boleh saja dibagikan kepada kategori penerima yang lain.

(M Quraish Shihab, Dewan Pakar Pusat Studi Alquran)

16. Apakah bagian fakir dan miskin perlu di bedakan?

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa ada orang yang beroleh penghasilan, namun tidak cukup memenuhi kebutuhannya. Ketidakcukupan itu boleh jadi melebihi setengah kebutuhannya, dan boleh jadi juga kurang dari setengahnya. Salah satu dari mereka disebut fakir dan yang lainnya disebut miskin.Demikian, wallahu a’lam.

(M Quraish Shihab, Dewan Pakar Pusat Studi Alquran)

17. Penghasilan telah dipotong oleh pajak yang besarnya sekitar 15%, apakah masih memiliki kewajiban untuk membayar zakat maal? Bagaimana cara menghitungnya?

Pengeluaran untuk pajak disebut pengeluaran primer, satusnya hampir sama dengan utang. Syaikh Mahmud Syaltut, mantan Syaikh Al-Azhar, Mesir, pernah berfatwa terkait kasus Anda ini. Menurutnya, apabila setelah dipotong pajak –-dan pengeluaran-pengeluaran utang lainnya– sisa uang Anda masih mencapai nisab, yaitu senilai 85 gram emas atau lebih, Anda harus mengeluarkan zakatnya sebesar 2,5%. Demikian, wallahu a’lam.

(Huzaema Tahido, Dewan Pakar Pusat Studi Alquran)

18. Apabila bersedekah untuk almarhum apakah kita yang menyedekahkan atas nama almarhum juga dapat pahala? Apakah hanya untuk almarhum saja?

Insya Allah kita yang bersedekah atas nama almarhum mendapat pahala, dan almarhum juga mendapat pahala. Allah Swt tidak akan menyia-nyiakan perbuatan baik seseorang, baik laki-laki maupun perempuan. Demikian, wallahu a’lam.

(Muhammad Arifin, Dewan Pakar Pusat Studi Alquran)

19. Bagaimana cara membayar fidyah Puasa Ramadhan ?

Fidyah adalah memberi makan setiap hari tidak berpuasa kepada seorang miskin seperti makanan sehari-hari yang bersangkutan, atau senilai dengan harga makanan itu. Nilainya tentu berbeda antara seorang dengan yang lain. Bukankah nilai makanan kita berbeda-beda? Fidyah dapat dibayarkan pada bulan Ramadan, dapat pula setelah Ramadan. Demikian, wallahu a’lam.

(M Quraish Shihab, Dewan Pakar Pusat Studi Alquran)

20. Apakah orang yang sakit dan tidak kuat untuk berpuasa, puasanya wajib dibayar setelah Ramadan atau cukup dengan fidyah saja?

Dalam QS al-Baqarah (2): 184, antara lain dinyatakan: “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” Inilah dasar hukum yang membolehkan membayar fidyah bagi seseorang yang merasa sangat berat untuk berpuasa. Ini berlaku misalnya bagai orang yang sudah tua. Sahabat Nabi, Ibnu Abbas, memasukkan wanita yang hamil dan/ atau menyusui dalam kandungan makna ayat di atas, sebagaimana diriwayatkan oleh pakar hadis al-Bazzar.

Sedang dalam pandangan mazhab Hanbali wanita yang hamil atau menyusui, maka mereka tidak membayar fidyah, tetapi harus mengganti puasanya pada hari yang lain. Dalam mazhab Ahmad dan Syâfi‘î kalau keduanya tidak berpuasa karena hanya khawatir keadaan janin/bayi yang disusukannya saja, bukan terhadap diri mereka, maka mereka harus membayar fidyah dan dalam saat yang sama mengganti puasanya.

Sedang bila khawatir atas diri mereka saja, atau diri mereka bersama dengan bayi/ janin, maka ketika itu, mereka hanya berkewajiban mengganti puasa, dan tidak membayar fidyah. Ini karena seseorang yang khawatir, walau atas dirinya saja, maka ia telah dibenarkan untuk tidak berpuasa serupa dengan orang sakit. Ini berdasar firman Allah dalam QS al-Baqarah (2): 184; “Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.”

Fidyah yang dibayarkan itu adalah memberi makan seorang miskin, seperti makanan sehari-hari yang bersangkutan, atau senilai dengan harga makanan itu. Nilainya tentu berbeda antara seorang dengan yang lain. Bukankah nilai makanan kita berbeda-beda? Demikian, wallahu a’lam.

(M Quraish Shihab, Dewan Pakar Pusat Studi Alquran)

21. Bagaimana hukum membayar fidyah Ibu Hamil,haid dan orang pikun?

Keadaan pikun dapat dikatakan seperti anak kecil yang belum baligh. Oleh karena itu, orang tersebut tidak wajib berpuasa tetapi wajib membayar fidyah. Jika ia tidak mampu membayar fidyah, maka yang membayarkannya adalah orang yang berkewajiban menanggung hidupnya (ahli waris), terutama anak cucunya. Demikian, wallahu a’lam.

(Faizah Ali Sibromalisi, Dewan Pakar Pusat Studi Alquran)

22. Membiayai keluarga sendiri, keluarga kakak dan adik yang miskin secara rutin perbulan melebihi 2.5% penghasilan, apakah tetap masih harus mengeluarkan zakat 2,5% terhadap penghasilan?

Apabila ketika membiayai keluarga kakak dan adik Anda yang miskin secara rutin yang totalnya melebihi 2,5% itu niat Anda adalah untuk mengeluarkan zakat, maka pemberian Anda itu sudah dinilai zakat dan kelebihannya dinilai sedekah. Kakak dan adik bukanlah keluarga yang menjadi tanggungan Anda, sehingga boleh menerima zakat selama mereka masuk dalam kategori fakir, miskin, atau salah satu dari delapan kelompok yang berhak menerima zakat. Demikian, wallahu a’lam.

(Huzaemah Tahido, Dewan Pakar Pusat Studi Alquran)

23. Bolehkah zakat via ATM kepada suatu yayasan zakat? Apakah harus ada serah terima dalam zakat dan juga bersedekah?

Boleh membayar zakat, infak, dan sedekah, dengan cara transfer melalui ATM ke rekening LAZIS, tidak harus datang langsung ke lembaga tersebut.
Dalam pembayaran zakat perlu ada akad penyerahan (ijab qabul) dari pembayar kepada penerima atau lembaga yang mewakilinya.

(Huzaemah Tahido, Dewan Pakar Pusat Studi Alquran.)

24. Mana yang lebih baik, bersedekah melalui suatu lembaga/ amil ataukah langsung ke sasarannya. Bolehkan zakat langsung ke tetangga?

Menyerahkan zakat oleh wajib zakat kepada yang berhak sah-sah saja. Tetapi menyerahkannya kepada lembaga BAZIS (baca: lembaga resmi) lebih baik, karena lebih terjamin pemerataan pembagian zakat itu. Ini karena boleh jadi mustahaq (yang berhak menerima) memeroleh dari berbagai sumber sedang ada selainnya yang tidak memeroleh sama sekali. Demikian, wallahu a’lam.

Menyerahkan zakat oleh wajib zakat kepada yang berhak sah-sah saja. Tetapi menyerahkannya kepada lembaga BAZIS (baca: lembaga resmi) lebih baik, karena lebih terjamin pemerataan pembagian zakat itu. Ini karena boleh jadi mustahaq (yang berhak menerima) memeroleh dari berbagai sumber sedang ada selainnya yang tidak memeroleh sama sekali.

Di sisi lain, memberi kepada amil yang tidak resmi berarti menunjuk wakil Anda untuk memberinya sedang amil zakat yang resmi/ semi resmi berkedudukan mewakili kelompok-kelompok yang berhak menerima. Konsekuensi perbedaan ini menjadikan Anda masih berkewajiban mengeluarkan zakat, jika zakat yang Anda amanatkan ke amil yang mewakili anda itu menghilangkannya, karena zakat belum sampai kepada yang berhak menerima.

Tetapi bila Anda menyerahkan kepada amil resmi/ BAZIS, maka karena dia mewalili yang berhak, Anda tidak perlu mengeluarkan zakat lagi seandainya zakat yang Anda serahkan itu hilang di tangan amil tersebut. Demikian, wallahu a’lam.

(M Quraish Shihab dan Huzaemah Tahido, Dewan Pakar Pusat Studi Alquran.)

25. Benarkah kita tidak boleh berkurban sebelum kita diakikahkan? Bolehkah membiayai untuk aqiqah diri  sendiri saat sudah besar karena orang tua tidak mampu?

Tidak benar. Kita boleh berkurban meskipun kita belum diakikahkan. Mazhab Hambali membolehkan melaksanakan akikah oleh yang bersangkutan sendiri walau setelah dia dewasa karena dalam pandangan ulama-ulamanya tidak ada batas waktu bagi pelaksanaannya.

(Muhammad Arifin, Dewan Pakar Pusat Studi Alquran)

Hasil Pencarian Dukun News :

beda zakat fitrah dan fidyah,beda zakat fitrah fidyah dan infak,bedanya fidyah dan z,bedanya zakat fitrah dan zakat fidyah,kata kata bijak untuk zakat fitrah,makalah zakat fidyah,pengertian zakat maal fidyah dan zakat fitrah,perbedaan zakat dan fidya,zakat fitrah mal fidyah hamil sama

Bagikan Info Penting Ini ::