PENGEMIS BERPENGHASILAN 7,5 JUTA SELAMA BULAN RAMADHAN

PENGEMIS BERPENGHASILAN 7,5 JUTA SELAMA BULAN PUASA RAMADHAN ada saja tingkah laku para pengemis jalanan untuk mencari rezeki pada lebaran seolah , walaupun gema takbir berhenti berkumandang. Tak kehilangan akal, untuk menghindari petugas penertiban, Parusmono umur 40 tahun dan Udin umur 30 tahun, menyamar sebagai petugas sapu jalanan.

Selama bulan puasa dua pengemis ini bisa meraup penghasilan minimum hingga Rp 7,5 juta. Nahas, kedok dua pria asal Brebes, Jawa Tengah ini terungkap petugas Suku Dinas Sosial, Jakarta Selatan.

Setelah terlibat aksi kejar-kejaran dengan petugas, keduanya berhasil  tertangkap saat beraksi di Jalan Patal Senayan, Jakarta Selatan pada malam takbiran, pada hari Senin tanggal 28 Juli 2014 dinihari.

Walaupun  sempat berupaya kabur, mereka akhirnya berhasil ditangkap.
Pada waktu itu mereka terlihat percaya diri, berseragam oranye khas penyapu jalanan Dinas Kebersihan DKI. Tak getir sedikitpun meski petugas berpatroli di sekitar kawasan mereka beroperasi.

Akan tetapi ketika dihampiri keduanya malah ambil langkah seribu. Sambil melepas seragam, mereka tunggang langgang menuju kegelapan malam.

Pas kita tangkap dari belakang, ternyata mereka kaget, terus melarikan diri ke tempat sepi dan gelap. Mereka juga sempat nyopot pakaian, sapu juga mereka tingga.Tak kalah cerdik, petugas lantas mengepung arah pelarian Parusmono dan Udin. Keduanya kemudian diamankan ke panti sosial terdekat. Kepada petugas, Parusmono mengakui, kalau modus serupa dia lakukan bersama Udin dan dua pengemis lainnya.Tapi yang dua lainnya kabur saat mengetahui gelagat petugas penertiban yang hendak menangkapnya.

Lanjut Miftahul, informasi pengemis bermodus petugas kebersihan ini sebenarnya diketahui dari Wakil Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama atau yang biasa dikenala dengan Ahok. Sejak pagi hari, beliau sudah menginstruksikan kepada Kepala Dinas Sosial DKI untuk segera menindaklanjuti.

Pada siang hari kita buru tapi hasilnya nihil. Berdasarkan investigasi petugas, mereka beroperasi malam hari di Patal Senayan. Malamnya, kita langsung menuju sasaran.

Kecurigaan petugas sapu jalanan gadungan itu terendus, karena tidak ada aturan Pemprov yang memberlakukan jam malam bagi mereka untuk bekerja. Jika memang ada, dipastikan petugas tersebut gadungan. Untuk itu, Ahok berpesan, agar masyarakat tidak tetipu.

Karena selama ini Pemprov sudah menggaji mereka sesuai UMP (Upah Minimum Provinsi). Kalau memang ada jam malam, hanya untuk kegiatan tertentu saja.Modus kedua petugas kebersihan gadungan ini juga, sudah dikeluhkan masyarakat. Selama bulan puasa, mereka kerap bekerja sampai malam hari.

Itu membuat masyarakat mempertanyakan, kemana nurani Pemprov yang membayar dengan upah minim, tapi kerja sampai larut malam. Bahkan, dini hari pun mereka masih sibuk.Selain untuk menghindari petugas, modus belas kasihan ini yang mendorong mereka menyamar. Hasil setiap malamnya di bulan puasa, mereka bisa meraup penghasilan Rp 250 ribu.

Bagikan Info Penting Ini ::