CARA MEMBAYAR DAN BESARAN FIDYAH PUASA RAMADHAN

CARA MEMBAYAR DAN BESARAN SERTA SIAPA SAJA YANG HARUS MEMBAYAR FIDYAH PUASA RAMADHAN . Bagi kaum muslimin yang berhalangan puasa di Bulan Ramadhan dan tidak sempat atau tidak sanggup untuk mengqodha puasa ramadhan harus membayar fidyah. Berikut dibawah ini adalah beberapa hal yang sering ditanyakan mengenai Fidyah Puasa Ramadhan diantaranya yaitu ::

cara membayar fidyah
perhitungan fidyah
fidyah dengan uang
besaran fidyah
fidyah wanita hamil
pengertian fidyah
fidyah puasa
fidyah untuk orang meninggal
Besaran Fidyah Puasa Ramadhan
Siapa Saja yang Harus Bayar Fidyah
Fidyah Puasa diberikan kepada Siapa Saja

cara membayar fidyah puasa dengan uang
membayar fidyah dengan uang
ketentuan membayar fidyah
cara membayar fidyah puasa bagi ibu hamil
cara membayar fidyah puasa dengan beras
cara membayar fidyah puasa wanita hamil
hukum fidyah puasa Ramadhan

Pengertian Fidyah Adalah sesuatu yang harus diberikan kepada orang miskin, berupa makanan, sebagai pengganti karena diatidak berpuasa di Bulan Ramadhan dan tidak sanggup untuk Mengqodhanya.

Terdapat beberapa pembagian mengenai hukum orang-orang yang meninggalkan puasa dan yang berkaitan dengan fidyah seperti berikut:

ORANG YANG WAJIB QADHO PUASA RAMADHAN

01-Orang yang sedang sakit dan sakitnya akan memberi mudarat kepadanya atau bertambah lambat sembuhnya, tetapi dia masih kuat ketika sembuh.
02-Orang yang meninggalkan puasa sewaktu belayar atau musafir kira-kira 2 marhalah.
03-Ibu yang hamil atau menyusukan anak dan khuatir dirinya sendiri menjadi mudarat.
04-Orang yang sedang haid atau nifas.
05-Orang yang terlalu lapar atau dahaga yang bisa membahayakan dirinya.
06-Orang yang batal puasanya kerana salah satu sebab yang membatalkannya bukan lupa.

ORANG YANG WAJIB QADHA DAN MEMBAYAR FIDYAH

01-Ibu yang hamil atau menyusukan anak, sekiranya hanya khuatir anaknya dan dirinyamenjadi mudarat.
02-Orang yang berhutang puasa yang belum dijelaskan sehingga timbulnya Ramadan yang lain.
03-Jika lewat qada puasa hingga datang bulan Ramadan yang lain wajib membayar fidyah 1 mud pada tiap-tiap hari puasa yang ditinggalkan, dan jika lewat 2 tahun, melewati dua kali Ramadan, wajib berfidyah sebanyak dua mud dan begitulah seterusnya di samping wajib mengqada puasa itu.

ORANG YANG TIDAK WAJIB QADHA TAPI MEMBAYAR FIDYAH

01-Orang sakit yang tidak berdaya untuk berpuasa dan harapan sembuh sangat tipis.
02-Orang yang lemah kerana sudah tua dan tidak mampu lagi untuk berpuasa.
WAJIB QADLA ATAU FIDYAH (Pilihan)
01-Waris bagi orang yang meninggal dengan ketiadaan uzur sebelum mengqada puasanya.

ORANG YANG TIDAK WAJIB QADHA DAN FIDYAH

01-Waris bagi orang sakit atau musafir dan meninggal dunia dengan udzur sebelum mengqada puasanya.
02-Kanak-kanak.
03-Gila.

Berikut dibawah ini seputar tanya jawab mengenai Cara Membayar Fidyah Puasa Ramahan

1. Apakah fidyah dalam bentuk Beras untuk satu hari puasa 2.5 kg beras,kalo untuk diuangkan apakah seharga beras 2,5 kg tersebut?

Fidyah diberikan dalam bentuk makanan pokok setempat dengan kadar satu sha atau 2,5 kg beras untuk satu hari puasa yang ditinggalkan.

2. Apakah kita bisa mengQadha puasa yang 2 tahun lalu belum kita ganti dan tahun ini baru kita menggantikannya dengan membayar fidyah ?

Jika hutang puasa tahun belum terbayar hingga datang ramadhan berikut jumhur ulama berpendapat yang harus dilakukan adalah membayar hutang tersebut secepatnya. Hanya saja, menurut madzhab Syafi’i jika terlewat satu tahun tanpa sempat terbayar, maka pembayaran hutang puasa tadi disertai dengan fidyah.

3. Apakah kita bisa fidyah pada panti asuhan atau pada anak-anak yang berada diasrama yang tidah mampu?

Siapapun yang tergolong fakir miskin berhak untuk mendapatkan fidyah, termasuk anak yatim yang miskin.

Antara Qadha dan Fidyah Bagi Ibu Hamil dan Menyusui

Syeikh ‘Athiyah Saqar mengatakan bahwa seorang yang sedang hamil dan menyusui apabila mengkhawatirkan dirinya jika dia berpuasa atau mengkhawatirkan terhadap anaknya maka Ibnu Umar, Ibnu Abbas berpendapat bahwa keduanya boleh tidak berpuasa dan hendaklah mengeluarkan fidyah serta tidak perlu mengqodho puasanya sepertihalnya seorang yang sudah tua renta.

Diriwayatkan dari Ikrimah dari Ibnu Abbas berkata didalam firman Allah swt disebutkan:

Artinya : “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.”
(QS. Al Baqoroh : 184)

Hal itu merupakan rukhshah (keringanan) bagi laki-laki maupun perempuan yang sudah tua yang keduanya sudah tidak sanggup lagi berpuasa untuk tidak berpuasa serta memberikan makan setiap harinya satu orang miskin, begitu juga dengan seorang yang sedang hamil maupun menyusui apabila keduanya khawatir—terhadap anaknya—maka keduanya boleh tidak berpuasa dan memberikan makan kepada orang miskin.

Diriwayatkan dari al Bazzar dan tambahan pada bagian akhirnya, Ibnu Abbas mengatakan kepada seorang ibu yang sedang hamil,”Posisi anda seperti orang yang tidak sanggup lagi berpuasa maka hendaklah anda membayarkan fidyah dan tidak perlu mengqadha (terhadap puasa yang ditinggalkan).” Sanadnya dishahihkan oleh Daruquthni.

Diriwayatkan dari Malik dan Baihaqi dari Nafi’ bahwa Ibnu Umar pernah ditanya tentang seorang wanita yang hamil apabila dia khawatir terhadap anak (yang dikandungnya), maka dia mengatakan,”Hendaknya dia berbuka dan memberikan makan setiap harinya satu orang miskin sebanyak satu mud dari gandum. Didalam hadits disebutkan,”Sesungguhnya Allah memberikan keringanan kepada orang yang melakukan perjalanan terhadap puasanya dan separuh shalatnya—qashar dalam shalatnya—dan kepada orang yang hamil dan menyusui terhadap puasanya.” (HR. Ahmad dan Ashabush Sunan).

Dengan begitu seorang yang sedang hamil dan meyusui apabila khawatir terhadap diri atau anaknya maka dibolehkan baginya untuk tidak berpuasa. Adapun tentang qadha (mengganti puasanya) dan fidyah, Ibnu Hazm tidak mewajibkannya sedikit pun sedangkan Ibnu Abbas dan Ibnu Umar mewajibkan bagi mereka berdua untuk membayar fidyah saja tidak perlu mengqadha. Adapun para ulama Hanafi berpendapat diwajibkan baginya qadha saja tanpa fidyah. Para Ulama Syafi’i dan Hambali mewajibkan baginya qadha dan fidyah apabila dia khawatir terhadap anaknya saja akan tetapi apabila dia khawatir terhadap dirinya saja atau terhadap dirinya dan juga anaknya maka wajib baginya qadha saja tanpa fidyah. (Nailul Author juz IV hal 243 – 245)

Didalam “Fiqih al Madzahib al Arba’ah” :

Para ulama Maliki mengatakan bahwa orang yang sedang hamil dan menyusui apabila dengan berpuasa dia mengkhawatiri dirinya akan sakit atau bertambah sakitnya—baik dia kahwatir terhadap dirinya atau anaknya atau dirinya saja atau anaknya saja—maka dibolehkan baginya untuk berbuka dan hendaklah dia mengqadhanya dan tidak wajib bagi seorang wanita yang hamil untuk mengeluarkan fidyah berbeda dengan seorang yang sedang menyusui maka wajib baginya fidyah. Adapun apabila keduanya khawatir dengan puasanya akan mencelakakan dirinya atau anaknya maka wajib baginya untuk berbuka.

Para ulama Hanafi mengatakan bahwa apabila seorang yang hamil atau menyusui khawatir puasanya akan membawa calaka maka dibolehkan bagi keduanya untuk berbuka baik dirinya khawatir terhadap diri dan anaknya atau terhadap dirinya saja atau anaknya saja dan diwajibkan baginya qadha ketika dirinya memiliki kesanggupan tanpa ada kewajiban fidyah.

Para ulama Hambali mengatakan bahwa dibolehkan bagi seorang yang hamil dan menyusui untuk berbuka apabila mereka berdua khawatir puasanya dapat mencelakakan diri dan anaknya atau terhadap dirinya saja maka diwajibkan bagi keduanya dalam kedua keadaan tersebut untuk mengqadha tanpa perlu membayar fidyah. Adapun apabila keduanya khawatir terhadap anaknya saja maka wajib baginya untuk mengqadha dan membayar fidyah.

Para ulama Syafi’i mengatakan bahwa seorang yang hamil dan menyusui apabila khawatir dengan puasanya akan membawa celaka dan dia dalam keadaan tidak menyanggupinya baik kekhawatiran terhadap diri dan anaknya sekaligus atau terhadap dirinya saja atau terhadap anaknya maka wajib baginya untuk berbuka dan mengqadha dalam tiga keadaan itu dan diwajibkan baginya membayar fidyah dan qadha dalam keadaan terakhir, yaitu apabila dia khawatir terhadap anaknya saja. (Fatawa Al Azhar juz IX hal 291)

Syeikh Yusuf al Qaradhawi mengatakan bahwa dibolehkan bagi seorang yang sedang hamil untuk berbuka pada bulan Ramadhan apabila dia khawatir terhadap janinnya akan meninggal…boleh baginya tidak berpuasa.. bahkan apabila kekahwatiran itu menguat atau hal itu telah ditetapkan oleh seorang dokter muslim yang bisa dipercaya dalam kedokteran dan keagamaannya maka wajib baginya untuk tidak berpuasa sehingga tidak menyebabkan kematian bayinya. Allah swt berfirman :

Artinya : “Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu.” (QS. Al An’am : 151) (QS. Al Isra : 31) Ia adalah jiwa yang harus dihormati sehingga tidak boleh bagi seorang laki-laki maupun perempuan untuk menyakitinya dan melakukan suatu perbuatan yang bisa mengakibatkan kematiannya.

Dan Allah swt tidaklah menyusahkan para hamba-Nya selama-lamanya. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas juga bahwa seorang yang hamil dan menyusui juga termasuk dalam firman-Nya :

Artinya : “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” (QS. Al Baqoroh : 184)

Adapun apabila seorang yang hamil atau menyusui mengkhawatirkan janin atau anaknya, maka para ulama telah berbeda pendapat setelah mereka membolehkan kepadanya untuk tidak berpuasa menurut ijma, apakah wajib baginya qadha atau memberi makan setiap harinya satu orang miskin atau keduanya yaitu qadha dan memberi makan sekaligus, mereka berbeda pendapat dalam hal itu.

Adapun Syeikh Yusuf al Qaradhawi berpendapat bahwa memberikan makan (fidyah) saja tanpa qadha dibolehkan bagi seorang wanita yang sedang hamil dan menyusui ketika memang dirinya tidak memiliki kesempatan untuk melakukan qadha, yaitu yang dalam setahun dia hamil dan dalam setahun dia menyusui dan pada tahun berikutnya dia hamil lagi… begitu seterusnya… dirinya selalu hamil dan menyusui dikarenakan dia tidak memiliki kesempatan untuk melakukan qadha. Apabila kita bebankan kepadanya untuk mengqadha hari-hari yang ditinggalkannya saat hamil atau menyusui berarti diwajibkan baginya untuk berpuasa selama beberapa tahun secara terus menerus setelah itu, dan ini adalah sebuah kesulitan dan Allah tidak menginginkan kesulitan terhadap hamba-hamba-Nya.

Siapa Saja yang Harus Membayar Fidyah Puasa Ramadhan

– Orang yang sakit dan secara umum ditetapkan sulit untuk sembuh lagi.

– Orang tua atau lemah yang sudah tidak kuat lagi berpuasa.

– Wanita yang hamil dan menyusui apabila ketika tidak puasa mengakhawatirkan anak yang dikandung atau disusuinya itu. Mereka itu wajib membayar fidyah saja menurut sebagian ulama, namun menurut Imam Syafi’i selain wajib membayar fidyah juga wajib mengqadha’ puasanya. Sedangkan menurut pendapat lain, tidak membayar fidyah tetapi cukup mengqadha’. Jadi intinya jika mampu Menqodha Puasa Ramadhan sebanyak yang ditinggalkan tidak perlu membayar Fidyah dan begitu sebaliknya Jika Tidak Mampu MengQodha Puasa Sebanyak yang ditinggalkan diharuskan membayar Fidyah sebesar 2,5 Kg untuk 1 hari Puasa Ramadhan yang ditinggalkan dan ada yang bertanya Apakah Fidyah Beras Bisa Diganti dengan Uang ? Bisa, Besaran beras 2,5 Kg bisa diuangkan dengan Harga pasaran beras 2,5 Kg yaitu sekitar RP. 22.500 jika 1 Kg beras harganya Rp. 9.000 . Dalam Artian 22.500 untuk 1 Hari Puasa Ramadhan yang ditinggalkan Jika Umpama Puasa Ramadhan yang ditinggalkan 29 Hari jadi Fidyah Uang yang harus dibayarkan adalah Rp. 652.500 Kepada Fakir Miskin atau Anak Yatim

– Orang yang menunda kewajiban mengqadha’ puasa Ramadhan tanpa uzur syar’i hingga Ramadhan tahun berikutnya telah menjelang. Mereka wajib mengqadha’nya sekaligus membayar fidyah, menurut sebagian ulama.

Demikian ulasan lengkap kami seputar Cara Membayar dan Takaran Besaran Fidyah Puasa Ramadhan Beras dan Uang semoga bermanfaat bagi pembaca dan jika dirasa artikel ini bermanfaat silahkan berbagi artikel ini ke krabat anda melalui Media Sosmed yang anda punya.

Bagikan Info Penting Ini ::